MAKNA SEBENARNYA PANCASILA
Pancasila
memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tak dapat dipisahkan
dari bangsa Indonesia serta merupakan ciri khas yaitu membedakan bangsa
Indonesia dari bangsa lain. Terdapat kemungkinan, bahwa tiap-tiap sila secara
terlepas dari yagn lain, bersifat universal yang juga dimiliki bangsa-bangsa
lain di dunia ini, akan tetapi ke-5 sila yang merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisah pula itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kenyataan
sehar-hari yang kita lihat dalam masyarakat bangsa Indonesia antara lain :
1.
Bangsa Indonesia sejak
dahulu sebagai bangsa yang religius, percaya akan adanya zat yang maha kuasa
dan mempunyai keyakinan yang penuh, bahwa segala sesuatu yang ada dimuka bumi
ini akan ciptaan Tuhan. Dalam sejarah nenek moyang, kita ketahui bahwa
kepercayaan kepada Tuhan itu dimulai dari bentuk dinamisme (serba tenaga), lalu
animisme (serba arwah), kemudian menjadi politeisme (serba dewa) dan akhirnya
menjadi monoteisme (kepercayaan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa) sisanya dalam
bentuk peninggalan tempat-tempat pemujaan dan peribadatan upacara-upacara
ritual keagamaan.
2.
Sejak dahulu, bangsa
Indonesia berkeyakinan bahwa pada hakekatnya semua manusia dilahirkan sama, dan
karena itu yang hidup dan menikmati kehadapan sepenuhnya watak mesti bangsa
Indonesia yang sebenarnya, tidak menyukai perbedaan perihal martabat yang
disebabkan karena perbedaan warna kulit, daerah keturunan dan kasta seperti
yang terjadi masyarakat feodal.
3.
Karena pengaruh keadaan
geografisnya yang terpencar antara satu wilayah dengan wilayah yang lainnya,
antar satu pulau dengan pulau lainnya maka Indonesia terkenal mempunyai banyak
perbedaan yang beraneka ragam sejak dari perbedaan bahasa daerah, suku bangsa,
adat istiadat, kesenian dan kebudayaannya (bhineka), tetapi karena mempunyai
kepentingan yang sama, maka setiap ada bahagian yang mengancam dari luar selalu
menimbulkan kesadaran bahwa dalam kebhinekaan itu terdapat ketunggalan yang
harus diutamkana kesadaran kebangsaan yang berbeda yaitu sebagai
bangsaIndonesia.
4.
Ciri khas yang merupakan
kepribadian bansga dari berbagai suku, bangsa Indonesia adalah adanya prinsip
musyawarah diantara warga masyarakat sendiri dalam mengatur tata kehidupan
mereka. Sedang kepala desa, kepala suku,dan sebagainya hanya merupakan pamong
(pembimbing mereka yang dipilih dan dari antara mereka sendiri, prinsip
musyawarah dan masyarakat yang merupakan inti dari kerakyatan telah
dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat adat seperti : desa marga, kurnia,
nagori, banua, dsb.
5.
Salah satu bentuk khusus
dari kerakyatan ialah kerakyatan dibidang ekonomi, yang dirumuskan sebagai
keadilan atau kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia, asas ini sudah
dikenal berabad-abad lamanya yang sisanya masih dapat kita jumpai dalam
masyarakat terutama di desa, yaitu kebisaaan tolong menolong antara sesama
masyarakat, gotong – royong dalam mengusahakan kepentingan bersama atau
membantu (menolong seseorang yang sangat membutuhkan seperti materialistik,
kapitalisme dan individualisme sama sekali tidak disukai oleh bangsa Indonesia,
karena tidak memungkinkan tercapainya keadilan / kesejahteraan sosial.
Pancasila
sebenarnya adalah cita-cita yang ingin dicapai bersama oleh bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, Pancasila sering disebut dengan landasan ideal. Maksud dari
ideal adalah bahwa Pancasila merupakan hal yang menjadi sebuah gagasan dan
dambaan. Hal ini sesuai dengan pengeraian Pancasila sebagai ideologi negara.
Dalam era yang hiruk-pikuk ini, eksistensi Pancasila sudah mulai dipertanyakan.
Benarkah Pancasila memang menjadi dasar hidup bangsa, benarkah Pancasila
merupakan identitas bagi bangsa Indonesia. Melihat realita yang ada, sulit
untuk membuktikan bahwa Pancasila masih menjiwai dan mendarah-daging dalam diri
manusia Indonesia.
Pancasila
pada saat ini cenderung menjadi lambang dan hanya menjadi formalitas yang
dipaksakan kehadirannya di Indonesia. Kehadiran Pancasila pada saat ini bukan
berasal dari hati nurani bangsa Indoensia. Bukti dari semua itu adalah tidak
aplikatifnya sila-sila yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan
masyarakat Indonesia.
PENYEBAB LUNTURNYA NILAI-NILAI
PANCASILA
Degredasi terhadap
nilai-nilai Pancasila disebabkan oleh mulai berkembangnya isme-isme (paham-paham) yang telah mengikis secara
perlahan nilai-nilai
yang termaktub dalam pancasila. Isme-isme tersebut diantaranya adalah
:
1. Fanatisme,
adalah suatu keyakinan atau
suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang
tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara
mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Fanatisme
yang berlebihan dalam berbagai aspek kehidupan baik Agama, Suku. Ras, dan juga
golongan akan melahirkan suatu sikap yang berlebihan sehingga mereka akan
berbuat sesuka hatinya karena beranggapan bahwa orang diluar pemahaman dirinya
adalah salah dan keliru. Fanatisme inilah yang kemudian melunturkan nilai-nilai
kesatuan dalam perbedaan yang tertera didalam nilai falsafah bangsa ini. Fanatik
boleh dan sah-sah saja, namun bilamana fanatik ini masuk pada wilayah Fanatisme yang berlebihan
sehingga mengganggu pada keutuhan bangsa dan meruncingnya problem
ditengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, tentunya sebagai masyarakat
Indonesia yang sadar akan keberagaman bangsa ini, kita akan berupaya untuk
mengurangi dan mengikis sedikit demi sedikit agar tidak menjadi problem bangsa
baru yang hadir di bumi pertiwi yang kita cintai ini.
2. Egoisme, istilah "egoisme" berasal dari bahasa Yunani
yakni ego yang
berarti "Diri" atau "Saya", dan -isme, yang
digunakan untuk menunjukkan filsafat. Dengan demikian, istilah ini etimologis
berhubungan sangat erat dengan egoisme. Egoisme merupakan motivasi untuk
mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri
sendiri. Hal ini berkaitan erat dengan narsisme, atau
"mencintai diri sendiri," dan kecenderungan mungkin untuk berbicara
atau menulis tentang diri sendiri dengan rasa sombong dan panjang lebar. Nilai
luhur pancasila mengajarkan kepada kita semua untuk bisa hidup damai dan
berdampingan dengan siapapun yang ada di bumi Indonesia, mengedepankan
kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, mengutamakan musyawarah
mufakat daripada keputusan Individual dan tentunya lebih mengutamakan hidup
bersama dengan baik dengan orang yang ada dilingkungan sekitar kita dari pada
hidup sendirian. Berbeda dengan dunia barat dimana mereka memiliki dan
meneapkan nilai-nilai Individualistik yang hampir sama dengan egoisme.
3. Hedonisme, kata hedonisme diambil dari Bahasa Yunani hedonismos dari akar kata hedone,
artinya "kesenangan". (Henk ten Napel.2009,Kamus Teologi:158). Hedonisme adalah pandangan hidup yang
menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak
mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
(Frans magnis suseno, Etika Dasar.1987:114). Hedonisme merupakan ajaran atau
pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan
manusia. (Lorens Bagus.2000, Kamus Filsafat:282).
Di berbagai lingkungan
mahasiswa di daerah, sering kita mendapat kabar, baik lewat televisi, koran,
majalah dll, mahasiswa yang tertangkap sedang melakukan pesta miras, atau
melakukan hubungan seksual. Hedonisme di lingkungan mahasiswa saat ini
merupakan fenomena paham prilaku yang khas negara berkembang. Perilaku tanggung
dalam menangkap modernitas sebagai nilai. Simbol modernitas ditangkap sebagai
barang jadi dan tidak memahami proses yang tejadi yang mendahuluinya.
4. Opportunisme, dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa
opurtunisme adalah paham yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri
sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pd prinsip tertentu (nomina).
Oportunisme juga dimakni sebagai suatu aliran pemikiran yang menghendaki
pemakaian kesempatan menguntungkan dengan sebaik-baiknya, demi diri
sendiri, kelompok, atau
suatu tujuan tertentu. Dunia mahasiswa hari ini kerap kali
dijadikan sebagai ajang dan media melakukan sikap-sikap oportunisme. Sebutlah
misalnya bagaimana para oportunis menjadi joki dalam tes masuk perguruan
tinggi, menerima jasa pembuatan skripsi dan lain sebagainya. Miris melihat
potret dunia akademis yang seperti ini, sehingga kedepan perlu adanya motivasi
dan sugesti yang dilakukan oleh para stake holder kampus yang memiliki hati dan
kejernihan pikiran untuk menyadarkan mereka – mereka yang telah menjadi pelaku
oportunis. Selain yang dipaparkan di atas, yang menjadi
penyebab lunturnya nilai Pancasila dewasa ini adalah karena faktor globalisasi.
Di
era globalisasi, pergaulan antarbangsa semakin kental. Batas antarnegara hampir
tidak ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam
pergaulan antarbangsa yang semakin kental itu, akan terjadi proses akulturasi,
saling meniru, dan saling mempengaruhi di antara budaya masing-masing. Adapun
yang perlu dicermati dari proses akulturasi tersebut adalah proses lunturnya
nilai budaya suatu bangsa itu sendiri, sebagai contoh yaitu : munculnya sikap
individualistis, konsumerisme, semakin menonjolnya sikap materialistis, dan
lunturnya budaya leluhur dari semulanya.
UPAYA
MENGEMBALIKAN NILAI-NILAI PANCASILA DAN PENGAMALANNYA DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
Melihat kondisi
yang memprihatinkan tersebut, hendaknya agar semua pihak melakukan empat hal
untuk mengembalikan kemurnian nilai-nilai Pancasila. Yang pertama adalah
mengembalikan Pancasila sebagai ideologi negara demi menjamin pluralitas dan
demokrasi dalam kehidupan berbangsa. Kedua, mendesak elite politik dan
pemerintah agar mampu menjalankan roda kekuasaan sesuai dengan Pancasila demi
tegaknya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan
sosial. Ketiga adalah mendukung pemerintah untuk mengambil tindakan tegas
terhadap tindakan yang menyimpang dari Pancasila, seperti korupsi dan kekerasan
bernuansa suku, agama dan budaya. Yang terakhir, imbauan agar semua pihak
meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang dilakukan oleh partai politik, yaitu
korupsi, kolusi dan nepotisme. Selain itu modernisasi metode
penanaman nilai-nilai Pancasila harus segera dilakukan, untuk melepaskan kaum
muda dari jerat popular culture yang telah dibangun oleh blok barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar