Menurut pandangan konstruktivisme, dalam proses pembelajaran
guru harus memfasilitasi peserta didik untuk membangun sendiri konsep-konsep
baru berdasarkan konsep lama yang telah dimiliki. Inkuiri-discovery-problem solving adalah istilah-istilah yang
sesungguhnya mengandung arti sejiwa, yaitu istilah yang menunjukkan kegiatan
atau cara belajar yang bersifat mencari secara logis, kritis, analitis, menuju
suatu kesimpulan yang meyakinkan.
Pengajaran IPS yang bermaterikan masalah-masalah sosial, memerlukan penerapan/penggunaan pendekatan/metode yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang memenuhi tuntutan tersebut adalah inkuiri, yaitu suatu pendekatan yang bersifat student centered. Hal yang terpenting dalam inkuiri adalah siswa mencari sesuatu sampai tingkatan “yakin” (belief-percaya). Tingkatan ini
dicapai melalui dukungan fakta, analisis,
interpretasi, dan pembuktiannya. Bahkan lebih dari itu dalam inkuiri akan dicapai tingkat
pencarian alternative pemecacahan masalah tersebut. Dengan inkuiri siswa akan dilibatkan melakukan
penyelidikan terhadap faktor-faktor yang belum pernah dilakukan, dan ini akan memberi motivasi yang tinggi.
Melakukan inkuiri
berarti melibatkan diri dalam tanya jawab, mencari informasi,
dan melakukan penyelidikan. Oleh karena itu strategi inkuiri dalam proses pembelajaran, adalah strategi yang melibatkan siswa dalam tanya jawab, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Dalam pelaksanaan siswa
bertanggung-
jawab untuk memberi ide atau pemikiran dan pertanyaan untuk eksplorasi,
mengajukan hipotesis untuk diuji, mengumpulkan dan mengorganisasi data
yang dipakai untuk menguji hipotesa, dan sampai pada
pengambilan kesimpulan yang masih tentatif.
Berdasar kadar inkuirinya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. free inqury, siswa memiliki kebebasan penuh dalam menetapkan tujuan, isi, dan cara belajar. Fungsi guru hanya mengawasi pelaksanaannya,
b. modified free inquiry,
siswa tidak lagi
bebas
sepenuhnya, karena
dalam
beberapa hal siswa
mendapatkan pengarahan dan pengawasan guru,
c. guided inquiry,
kebebasan siswa semakin berkurang, dengan kata lain peran guru semakin besar.
PERANAN GURU DALAM PENDEKATAN INKUIRI
Pada prinsipnya inkuiri adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa,
maka peranan guru
adalah
sebagai
pembimbing,
stimulator, dan fasilitator. Guru menciptakan suasana yang menjamin kebebasan untuk melakukan eksplorasi, mendorong siswa
untuk
berani
memecahkan buah pikirannya sendiri dengan berbagai cara. Dalam hal
ini
guru dapat menempuh cara-cara: bersikap terbuka dalam menerima pendapat, bersedia menerima,
memeriksa/menimbang
semua usaha yang diajukan siswa, dengan ringan hati memberikan kunci-kunci pemecahan masalah, memberi kesempatan kepada siswa untuk berbuat kreatif dan mandiri, mendorong siswa untuk berani
bertukar pendapat, menganalisis pendapat dar tafsiran yang berbeda-beda.
Di dalam pembelajaran
inkuiri guru berperan sebagai fasilitator:
1.
menyiapkan tugas, masalah/problem yang akan dipecahkan oleh siswa,
2.
memberikan klarifikasi-klarifikasi,
3.
menyiapkan setting kelas,
4.
menyiapkan alat-alat dan fasilitas belajar yang diperlukan,
5.
memberikan kesempatan pelaksanaan,
6.
sebagi sumber informasi, jika diperlukan oleh siswa,
7.
membantu siswa agar dapat secara mandiri merumuskan kesimpulan dan implikasi-implikasinya.
Guru
sebagai stimulator, berusaha menstimulir siswanya untuk berpikir aktif, dengan cara
mengajukan pertanyaan, meminta siswa untuk mengaplikasikan
prinsip-prinsip ke dalam berbagai situasi, mendorong siswa untuk mengolah data dan
informasi. Selain itu
guru juga harus menghadapkan siswa pada masalah, kontradiksi,
implikasi, asumsi tentang nilai dan pertentangan
nilai. Kemudian guru
mengklarifikasi respon siswa dan menyarankan alternatif penafsiran terhadap data.
Menurut Kosasi (1978:46), untuk
melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, guru dituntut memiliki ciri-ciri guru inkuiri antara lain:
1.
memiliki
kemampuan sebagai perencana (planer), baik rencana program pengajaran, pelaksanaan, maupun evaluasi,
2.
memiliki
kemampuan
untuk melaksanakan rencana tersebut dengan sebaik-baiknya menurut keputusan proses pembelajaran serta tujuan
instruksionalnya,
3.
memiliki kemampuan sebagai penanya yang baik,
4.
guru mempunyai kemampuan sebagai manajer,
5.
memiliki kemampuan sebagai pemberi hadiah, dapat
berupa pujian sebagai cara untuk memotivasi belajar,
6.
memiliki
kemampuan
sebagai penguji kebenaran
dari pada suatu sistem nilai.
PERANAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN INKUIRI DI SD
Dalam inkuiri siswa sebagai pengambil inisiatif atau
prakarsa dalam
menentukan
sesuatu. Siswa aktif menggunakan cara
belajar mereka sendiri, dengan demikian
mereka diharapkan
mempunyai keberanian untuk
mengajukan pertanyaan, merespon masalah, dan
berpikir untuk memecahkan masalah atau menemukan jawabannya melalui penyelidikan.
Melalui pembelajaran
inkuiri, siswa dapat
dikondisikan aktif belajar, ikut
menentukan tujuan, isi, dan cara belajar, misalnya
siswa aktif mencari
dan menemukan informasi, berdiskusi, dan
memecahkan masalah. Bahan pelajaran lebih banyak bersifat pemikiran dan penerapan prinsip dan generalisasi agar dapat mengembangkan dinamika
dan kreativitas siswa. Dalam hal ini guru hanya sebagai fasilitator dan motivator.
Pendekatan inkuiri sebenarnya sangat bermanfaat
bagi siswa. Manfaat tersebut
(Mukminan. 2000 :68), antara lain:
1. mengembangkan keterampilan
siswa untuk mampu memecahkan permasalahan serta mengambil keputusan secara obyektif dan mandiri,
2.
mengembangkan kemampuan berpikir siswa
atau meningkatkan potensi intelektualnya,
3.
membina
pengembangan sikap
penasaran (rasa ingin
tahu)
dan
cara berpikir obyektif, mandiri, kritis, logis, dan
analitis baik secara individu maupun kelompok, dan
4. meningkatkan kemampuan
untuk
melacak
kembali (heuristik)
dari discovery, di
mana discovery akan merupakan cara berpikir dan cara hidup dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar