Jumat, 15 Juli 2016

Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran IPS



Menurut pandangan konstruktivisme, dalam proses pembelajaran guru harus memfasilitasi peserta didik untuk membangun sendiri konsep-konsep baru berdasarkan konsep lama yang telah dimiliki. Inkuiri-discovery-problem solving adalah istilah-istilah yang sesungguhnya mengandung arti sejiwa, yaitu istilah yang menunjukkan kegiatan atau cara belajar yang bersifat mencari secara logis, kritis, analitis, menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan.
Sund menyatakan bahwa discovery adalah proses mental  di  mana  siswa  mengasimilasikan  sesuatu  konsep  atau  sesuatu  prinsip. Proses mental tersebut, misalnya, mengamati, mengklasifikasi, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan. Sedangkan  inkuiri  dibentuk  meliputi  discovery,  dengan  perkataan  lain  inkuiri adalah  perluasan  proses  discovery  yang  digunakan  lebih  mendalam. Misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan mengalisis data, dan menarik kesimpulan.
Pengajaran IPS yang bermaterikan masalah-masalah sosial, memerlukan penerapan/penggunaan  pendekatan/metode yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang memenuhi tuntutan tersebut adalah inkuiri, yaitu suatu pendekatan yang bersifat student centered. Hal yang terpenting dalam inkuiri adalah siswa mencari sesuatu sampai tingkatan yakin” (belief-percaya). Tingkatan ini dicapai melalui dukungan fakta, analisis, interpretasi, dan pembuktiannya. Bahkan lebih dari itu dalam inkuiri akan dicapai tingkat pencarian alternative pemecacahan masalah tersebut. Dengan inkuiri siswa akan  dilibatkan   melakukan   penyelidikan   terhadap   faktor-faktor   yang  belum pernah dilakukan, dan ini akan memberi motivasi yang tinggi.
Melakukan inkuiri berarti melibatkan diri dalam tanya jawab, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Oleh karena itu strategi inkuiri dalam proses pembelajaran, adalah strategi yang melibatkan siswa dalam tanya jawab, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Dalam pelaksanaan siswa bertanggung- jawab untuk memberi ide atau pemikiran dan pertanyaan untuk eksplorasi, mengajukan hipotesis untuk diuji, mengumpulkan dan mengorganisasi data yang dipakai untuk menguji hipotesa, dan sampai pada pengambilan kesimpulan yang masih tentatif.
Berdasar kadar inkuirinya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a.    free inqury, siswa memiliki kebebasan penuh dalam menetapkan tujuan, isi, dan cara belajar. Fungsi guru hanya mengawasi pelaksanaannya,
b.    modified free inquiry, siswa  tidak  lagi  bebas  sepenuhnya,  karena  dalam  beberapa  hal  siswa mendapatkan pengarahan dan pengawasan guru,
c.    guided inquiry, kebebasan siswa semakin berkurang, dengan kata lain peran guru semakin besar.

PERANAN GURU DALAM PENDEKATAN INKUIRI
Pada prinsipnya inkuiri adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka peranan  guru  adalah  sebagai  pembimbing,  stimulator,  dan  fasilitator. Guru menciptakan suasana yang menjamin kebebasan untuk melakukan eksplorasi,  mendorong  siswa  untuk  berani  memecahkan  buah  pikirannya sendiri dengan berbagai cara. Dalam hal ini guru dapat menempuh cara-cara: bersikap terbuka dalam menerima pendapat, bersedia menerima, memeriksa/menimbang  semua usaha yang diajukan siswa, dengan ringan hati memberikan kunci-kunci pemecahan masalah, memberi kesempatan kepada siswa  untuk  berbuat  kreatif  dan  mandiri,  mendorong  siswa  untuk  berani bertukar pendapat, menganalisis pendapat dar tafsiran yang berbeda-beda.
Di dalam pembelajaran inkuiri guru  berperan sebagai fasilitator:
1.    menyiapkan tugas, masalah/problem yang akan dipecahkan oleh siswa,
2.    memberikan klarifikasi-klarifikasi,
3.    menyiapkan setting kelas,
4.    menyiapkan alat-alat dan fasilitas belajar yang diperlukan,
5.    memberikan kesempatan pelaksanaan,
6.    sebagi sumber informasi, jika diperlukan oleh siswa,
7.    membantu siswa agar dapat secara mandiri merumuskan kesimpulan dan implikasi-implikasinya.
Guru sebagai stimulator, berusaha menstimulir siswanya untuk berpikir aktif, dengan cara mengajukan pertanyaan, meminta siswa untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip  ke dalam berbagai situasi, mendorong siswa untuk mengolah data dan informasi. Selain itu guru juga harus menghadapkan siswa pada masalah, kontradiksi,  implikasi, asumsi tentang nilai dan pertentangan  nilai. Kemudian guru mengklarifikasi respon siswa dan menyarankan alternatif penafsiran terhadap data.
Menurut Kosasi (1978:46), untuk melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, guru dituntut memiliki ciri-ciri guru inkuiri antara lain:
1.    memiliki kemampuan  sebagai perencana (planer), baik rencana program pengajaran, pelaksanaan, maupun evaluasi,
2.    memiliki   kemampuan   untuk   melaksanakan   rencana   tersebut   dengan sebaik-baiknya menurut keputusan proses pembelajaran serta tujuan instruksionalnya,
3.    memiliki kemampuan sebagai penanya yang baik,
4.    guru mempunyai kemampuan sebagai manajer,
5.    memiliki kemampuan sebagai pemberi hadiah, dapat berupa pujian sebagai cara untuk memotivasi belajar,
6.    memiliki  kemampuan  sebagai penguji kebenaran  dari pada suatu sistem nilai.

PERANAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN INKUIRI DI SD
Dalam   inkuiri   siswa   sebagai   pengambil   inisiatif   atau   prakarsa   dalam menentukan  sesuatu. Siswa aktif menggunakan  cara belajar mereka sendiri, dengan  demikian  mereka  diharapkan  mempunyai  keberanian  untuk mengajukan pertanyaan, merespon masalah, dan berpikir untuk memecahkan masalah atau menemukan jawabannya melalui penyelidikan.
Melalui pembelajaran inkuiri, siswa dapat dikondisikan aktif belajar, ikut menentukan  tujuan,  isi, dan cara belajar,  misalnya  siswa aktif mencari  dan menemukan informasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Bahan pelajaran lebih banyak bersifat pemikiran dan penerapan prinsip dan generalisasi agar dapat  mengembangkan  dinamika  dan kreativitas  siswa.  Dalam hal ini guru hanya sebagai fasilitator dan motivator.
Pendekatan     inkuiri     sebenarnya     sangat bermanfaat bagi siswa. Manfaat tersebut (Mukminan. 2000 :68), antara lain:
1.  mengembangkan  keterampilan  siswa  untuk  mampu  memecahkan permasalahan serta mengambil keputusan secara obyektif dan mandiri,
2.    mengembangkan kemampuan berpikir siswa atau meningkatkan potensi intelektualnya,
3.    membina  pengembangan   sikap  penasaran  (rasa  ingin  tahu)  dan  cara berpikir obyektif, mandiri, kritis, logis, dan analitis baik secara individu maupun kelompok, dan
4.  meningkatkan   kemampuan   untuk   melacak   kembali   (heuristik)   dari discovery, di mana discovery akan merupakan cara berpikir dan cara hidup dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar